{"id":127,"date":"2026-04-29T02:34:09","date_gmt":"2026-04-29T02:34:09","guid":{"rendered":"https:\/\/greencampus.uinsaizu.ac.id\/?p=127"},"modified":"2026-04-30T05:45:07","modified_gmt":"2026-04-30T05:45:07","slug":"uin-saizu-gelar-seminar-nasional-ekoteologi-islam-dorong-pelestarian-lingkungan-berbasis-kearifan-lokal-banyumasan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/greencampus.uinsaizu.ac.id\/?p=127","title":{"rendered":"UIN Saizu Gelar Seminar Nasional Ekoteologi Islam, Dorong Pelestarian Lingkungan Berbasis Kearifan Lokal Banyumasan"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/uinsaizu.ac.id\/saizu\/ckeditor\/ckeditor\/uploads\/UINSaizuGelarSeminarNasionalEkoteologiIslam,DorongPelestarianLingkunganBerbasisKearifanLokalBanyumasan.jpeg\" alt=\"\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>UINSAIZU.AC.ID-<\/strong>&nbsp;UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan isu lingkungan melalui Seminar Nasional bertajuk \u201cMembumikan Teologi, Melestarikan Tradisi: Perspektif Ekoteologi Islam dalam Bingkai Kearifan Lokal Banyumasan\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan ini digelar pada Senin, 20 April 2026, bertempat di Auditorium UIN Saizu, dan terselenggara atas kerja sama dengan UI GreenMetric. Seminar dihadiri Rektor UIN Saizu, Prof. Ridwan, bersama Wakil Rektor I Prof. Suwito, Wakil Rektor II Prof. Sulkhan Chakim, dan Wakil Rektor III Prof. Sunhaji.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ratusan mahasiswa tampak memadati auditorium, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap isu ekoteologi dan keberlanjutan lingkungan. Dalam paparannya, Prof. Suwito selaku Guru Besar Tasawuf Lingkungan UIN Saizu menegaskan bahwa konsep ekoteologi dalam Islam memiliki landasan teologis yang kuat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia menjelaskan bahwa alam semesta bukanlah entitas pasif, melainkan saksi atas setiap perbuatan manusia. \u201cDalam perspektif Islam, manusia dan lingkungan sekitarnya akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT. Bahkan setiap jengkal tanah akan melaporkan apa yang manusia lakukan di atasnya, baik kebaikan maupun kemaksiatan,\u201d ujar Prof. Suwito.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/uinsaizu.ac.id\/saizu\/ckeditor\/ckeditor\/uploads\/UINSaizuGelarSeminarNasionalEkoteologiIslam,DorongPelestarianLingkunganBerbasisKearifanLokalBanyumasan1.jpeg\" alt=\"\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia juga mengaitkan konsep tersebut dengan berbagai riwayat dalam Islam, seperti kisah dialog antara semut dengan Nabi Sulaiman AS serta peristiwa batang pohon kurma yang menangis saat ditinggalkan Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa alam memiliki dimensi spiritual yang tidak bisa diabaikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih lanjut, Prof. Suwito memaparkan bahwa perspektif teologis ini sejalan dengan temuan ilmiah modern. Ia menyinggung penelitian Masaru Emoto yang menunjukkan bahwa air dapat merespons kata-kata manusia, serta riset Cleve Backster yang mengungkap kemampuan tumbuhan dalam merespons lingkungan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cIntegrasi antara dalil agama dan sains ini semakin menegaskan bahwa manusia harus memperlakukan alam dengan penuh tanggung jawab moral,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara itu, Kepala UI GreenMetric Universitas Indonesia, Dr. Vishnu Juwono, dalam sesi pemaparannya menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai pelopor dalam gerakan keberlanjutan lingkungan. Ia menyebut bahwa terdapat berbagai pilihan energi berkelanjutan yang dapat diterapkan, tergantung pada kondisi masing-masing institusi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/uinsaizu.ac.id\/saizu\/ckeditor\/ckeditor\/uploads\/UINSaizuGelarSeminarNasionalEkoteologiIslam,DorongPelestarianLingkunganBerbasisKearifanLokalBanyumasan2.jpeg\" alt=\"\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cUniversitas harus menjadi contoh. Jika lingkungan kampus masih kotor dan penuh sampah, maka akan muncul persepsi ketidakkonsistenan dalam komitmen terhadap keberlanjutan,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dr. Vishnu juga menekankan bahwa kunci keberhasilan dalam sistem pemeringkatan UI GreenMetric terletak pada kelengkapan data dan bukti konkret atas program-program lingkungan yang dijalankan. \u201cMulailah dari kampus kita, untuk negeri kita, dan untuk dunia,\u201d pesannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seminar nasional ini tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan berbasis nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal Banyumasan. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama serta penyerahan plakat sebagai bentuk apresiasi dan simbol kolaborasi antara UIN Saizu dan UI GreenMetric.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui kegiatan ini, UIN Saizu berharap dapat terus berkontribusi dalam membangun kesadaran ekologis di kalangan civitas akademika, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. (AL\/AR)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kampus Desa Mendunia!<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">#UINSaizu #Seminarnasional #Ekoteologi #Greenmetric #Kampusdesamendunia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>UINSAIZU.AC.ID-&nbsp;UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan isu lingkungan melalui Seminar Nasional bertajuk \u201cMembumikan Teologi, Melestarikan Tradisi: Perspektif Ekoteologi Islam dalam Bingkai Kearifan Lokal Banyumasan\u201d. Kegiatan ini digelar pada Senin, 20 April 2026, bertempat di Auditorium UIN Saizu, dan terselenggara atas kerja sama dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":128,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[4,5,6],"class_list":["post-127","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","tag-ekoteologi","tag-ui-greenmetric","tag-uin-saizu"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/greencampus.uinsaizu.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/127","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/greencampus.uinsaizu.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/greencampus.uinsaizu.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/greencampus.uinsaizu.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/greencampus.uinsaizu.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=127"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/greencampus.uinsaizu.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/127\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":131,"href":"https:\/\/greencampus.uinsaizu.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/127\/revisions\/131"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/greencampus.uinsaizu.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/128"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/greencampus.uinsaizu.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=127"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/greencampus.uinsaizu.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=127"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/greencampus.uinsaizu.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=127"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}