
UINSAIZU.AC.ID- UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan kajian keislaman bertaraf internasional melalui penyelenggaraan The 5th Saizu International Conference on Transdisciplinary Religious Studies (ICONTREES).
Konferensi internasional yang digelar oleh International Office UIN Saizu tersebut berlangsung pada Rabu (3/6/2026) di Hall Perpustakaan UIN Saizu. Kegiatan mengusung tema “Beyond the Cosmos: Transdisciplinary Perspectives on Ecotheology and Global Sustainability.”
Konferensi ini menghadirkan akademisi dan peneliti dari berbagai negara untuk mendiskusikan isu-isu ekoteologi, keberlanjutan lingkungan, serta tantangan global yang membutuhkan pendekatan lintas disiplin ilmu. Kegiatan ini diikuti ratusan mahasiswa, akademisi, serta peserta yang mengirimkan karya ilmiah mereka.
Selain plenary session, konferensi juga menghadirkan presentasi paralel dari para peneliti yang memaparkan hasil kajian mereka terkait agama, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan. Konferensi internasional tersebut dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Saizu Purwokerto, Prof. Ridwan.
Dalam sambutannya, Prof. Ridwan menegaskan bahwa tema ICONTREES tahun ini merupakan langkah penting dalam menjawab berbagai tantangan global yang semakin kompleks, terutama terkait perubahan iklim dan krisis ekologis.
“Perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan krisis ekologi bukan lagi ancaman yang jauh, melainkan realitas yang sedang kita hadapi saat ini. Melalui perspektif ekoteologi, kita diingatkan bahwa alam semesta merupakan amanah suci yang harus dijaga bersama,” ujar Prof. Ridwan.
Menurutnya, konsep Beyond the Cosmos mengajak para akademisi untuk melampaui cara pandang yang sempit dan sektoral. Persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu disiplin ilmu, tetapi membutuhkan kolaborasi antara kajian agama, ilmu lingkungan, kebijakan publik, hingga kearifan lokal.
“Melampaui kosmos berarti melampaui batas-batas pemikiran yang terkotak-kotak. Kita membutuhkan pendekatan transdisipliner, di mana nilai-nilai Al-Qur’an bertemu dengan ilmu lingkungan, etika agama memberikan arah bagi kebijakan global, dan kearifan tradisional memperkuat praktik keberlanjutan modern,” katanya.
Prof. Ridwan juga menyampaikan UIN Saizu berkomitmen membangun jembatan antara iman, ilmu pengetahuan, dan upaya menjaga keberlanjutan kehidupan di bumi. Ia menyambut kehadiran para pembicara utama dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Amerika Serikat yang dinilai akan memperkaya perspektif peserta mengenai isu keberlanjutan global.
Pada kesempatan tersebut, Rektor juga menyampaikan apresiasi kepada 28 presenter dari empat negara yang akan mempresentasikan hasil penelitian mereka dalam sesi paralel. Menurutnya, kehadiran para peneliti dan mahasiswa internasional menunjukkan bahwa kepedulian terhadap pelestarian lingkungan dan pengembangan ilmu pengetahuan tidak mengenal batas negara.
Sementara itu, perwakilan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Dr. Nik Suhaida Nik A. Majid, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan UIN Saizu kepada delegasi internasional. Ia menilai konferensi ini bukan hanya menjadi ruang berbagi ilmu pengetahuan, tetapi juga sarana memperkuat pertukaran budaya dan persaudaraan antarbangsa.

“Melalui seminar ini, kita tidak hanya membahas gagasan akademik, tetapi juga memperluas pertukaran budaya dan mempererat hubungan persaudaraan. Kami berharap hubungan baik antara UIN Saizu dan USIM dapat terus berkembang melalui berbagai kolaborasi yang produktif di masa mendatang,” ujarnya.
Menurutnya, kerja sama antarperguruan tinggi tidak cukup diwujudkan melalui penandatanganan dokumen formal semata, tetapi harus menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai aktivitas akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pandangan serupa disampaikan oleh akademisi dari University of the Philippines, Prof. Julkipli M. Wadi. Ia mengaku merasakan kedekatan budaya yang kuat selama berada di Indonesia dan melihat konferensi ini sebagai forum strategis untuk menjawab tantangan masa depan studi Islam.
Prof. Julkipli menyoroti perkembangan pesat kecerdasan buatan (artificial intelligence), robotika, dan nanoteknologi yang akan membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Menurutnya, lembaga pendidikan Islam perlu terus beradaptasi agar tetap relevan dalam menghadapi transformasi global tersebut.
“Kita harus mempersiapkan generasi masa depan yang mampu menghadapi perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi studi Islam. Konferensi seperti ini penting untuk melahirkan pemikiran dan solusi yang berdampak nyata,” katanya.
Selain menjadi forum ilmiah internasional, ICONTREES ke-5 juga menjadi momentum penguatan jejaring kelembagaan UIN Saizu. Dalam rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara UIN Saizu dengan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) serta University of the Philippines.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperluas kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, pertukaran akademik, publikasi ilmiah, serta pengembangan program internasional yang bermanfaat bagi kedua belah pihak.
Setelah penandatanganan MoU, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dari para keynote speaker, yakni Prof. Nita Triana dari UIN Saizu, Dr. Claudia Seise dari Ribāt University Amerika Serikat, Assoc. Prof. Mashitah binti Sulaiman dari USIM Malaysia, dan Prof. Julkipli M. Wadi dari University of the Philippines. Selanjutnya, para presenter memaparkan hasil penelitian mereka dalam sesi paralel yang berlangsung secara dinamis dan interaktif.
Melalui penyelenggaraan ICONTREES ke-5, UIN Saizu terus memperkuat posisinya sebagai kampus yang aktif membangun jejaring akademik internasional sekaligus berkontribusi dalam pengembangan kajian keagamaan yang responsif terhadap berbagai tantangan global, khususnya isu lingkungan dan keberlanjutan masa depan. (AL/AR)
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #Icontrees #InternationalConference #Ekoteologi #Kampusdesamendunia
0 Comments